
Jika dari kacamata orang awam, mungkin mereka percaya saja dengan video pembantaian di Mesuji Lampung, tapi bisa jadi ini pengalihan isu pertama kasus Mesuji Lampung ini sudah lama bulan november 2010 dan dibangkitkan lagi arwahnya dipenghujung tahun ini, ditengah-tengah kasus penting seperti hubungan ‘AS’ dengan penyidik KPK, Penangkapan Nunun Nurbaeti, Bakar diri Sondang Hutagalung.
Ketika kasus Mesuji Lampung dipanaskan lagi, munculah video pembataian itu, Kapolda Lampung mengatakan video di Mesuji Lampung tidak separah itu dan mengatakan video itu tidak terjadi di wilayahnya, disisi lain ada juga nama Mesuji di Kabupaten OKI, Sumsel. Kalau yang di Mesuji OKI, Kapolda Sumsel megatakan kasusnya sudah diusut pelakunya sudah dihukum.
Sekarang ketika penyelidikan berjalan ternyata video yang ditayangkan di DPR, katanya sih itu HOAX karena video itu terjadi di Thailand. Tokoh masyarakat Mesuji Lampung Agus Harahap dalam pertemuan dengan Muspida dan Komisi III DPR, menegaskan tidak ada pembantaian hingga menyebabkan 30 warga tewas di Mesuji. Dia juga meminta informasi tentang hal tersebut diralat. Sebelumnya pengamat telematika, Heru Sutadi, dari analisis gambar, diketahui ada kejanggalan dalam video kisah pembantaian warga yang berdurasi 7:17 menit tersebut.
Sementara itu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan tidak ada peristiwa pemenggalan kepala yang terjadi di Desa Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh menyebutkan, dua warga yang tewas pada peristiwa 21 April 2011 lalu mengalami luka sayat dan diduga juga luka tembak. "Dari informasi masyarakat, tidak ada warga yang mengalami penggal kepala," ujar Ridha di ruang kerjanya, Jumat, 23 Desember 2011. Peristiwa yang masih menyisakan ketakutan bagi warga Sodong itu, menurut Ridha, berawal dari terbunuhnya dua warga. Mereka adalah Indra, 16 tahun, dan Saetu, yang merupakan paman Indra.
Menurut Ridha, dari temuaan Komnas, lokasi pembunuhan Indra dan Saetu bukan berada di lokasi yang menjadi lahan sengketa. Saetu ditemukan di lahan milik PT SWA. Indra dan Saetu sebelumnya tidak pernah terlibat masalah dengan perusahaan. Hingga kini, masyarakat setempat masih bertanya-tanya apa motif di balik pembunuhan Indra dan Saetu. Sekitar satu jam setelah ditemukannya Indra dan Saetu, warga melakukan demonstrasi ke base camp PT SWA. Saat inilah, kata Ridha, terjadi perusakan terhadap fasilitas perusahaan. Lima orang dari pihak pengamanan perusahaan terbunuh. Informasi ini berdasarkan hasil laporan kepolisian setempat dan pemerintah daerah. "Tapi, masyarakat mengaku sama sekali tidak melakukan perusakan dan hanya melakukan demonstrasi," kata Ridha. Kepada Ridha, warga mengaku tidak mengenal kelima korban dari Pam Swakarsa, termasuk lima orang pelaku yang menurut polisi sudah diproses terkait terbunuhnya lima Pam Swakarsa tadi.
Dari hasil kunjungan Komnas HAM ke Desa Sodong, warga masih tampak gelisah. Alasannya, kepolisian sudah menetapkan adanya delapan orang terkait kerusuhan di base camp PT SWA. Namun, polisi tidak pernah mengumumkan nama-nama itu.
Ridha menginginkan pemerintah dan kepolisian bersikap transparan menjelaskan kepada publik siapa lima anggota Pam Swakarsa yang tewas dan siapa lima orang yang sudah diproses hukum terkait kasus ini. Ini agar masyarakat di Desa Sodong tidak merasa was-was lagi.
Kalau menurut saya kasus ini cukup sukses untuk menutupi kasus-kasus besar, terbukti media-media ditanah air lebih banyak meberitakan tentang Mesuji daripada Korupsi, bahkan Erupsi Gunung Gamalama saja kalah pamor dengan Kasus Mesuji. Beberapa berita lain yang kalah pamor dari Mesuji adalah Kasus Wisma Atlet, Sondang Hutagalung, Kisruh PSSI, Para Games, Erupsi Gunung, Banjir dibeberapa daerah, Kelanjutan dari runtuhnya Jembatan Kukar, dan banyak lain.
Kasus Mesuji, fakta atau pengalihan isu?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar